HENDRA HILMAN

Ganti Tim Sales Hasil Tetap Sama? Ini 3 Penyebab Sebenarnya

Kalau Anda sudah ganti tim sales dua atau tiga kali dan hasilnya selalu kembali ke titik yang sama dalam tiga sampai enam bulan, kemungkinan besar masalahnya bukan di orang yang Anda rekrut. Ketika ganti tim sales hasil tetap sama berulang kali, polanya menunjuk ke satu arah: sistem di sekitar peran itu yang belum jelas — bukan kompetensi orang yang mengisinya.

Kenapa Ganti Tim Sales Hasil Tetap Sama Setiap Kali?

Ada satu pola yang saya lihat berulang pada business owner yang saya dampingi selama bertahun-tahun terakhir, dan polanya hampir selalu sama.

Seorang pemilik bisnis merekrut sales manager baru. Orangnya kelihatan bagus di interview — pengalaman panjang, CV mentereng, bisa bicara angka dengan percaya diri. Tiga bulan pertama terasa segar. Ada energi baru, ada semangat baru di tim. Tapi bulan keempat, kelima, keenam — angka penjualan kembali ke titik yang sama seperti sebelum orang ini datang.

Owner-nya kecewa. Dia menyimpulkan: orangnya kurang cocok. Dia rekrut lagi. Kali ini dia lebih hati-hati — cari yang lebih berpengalaman, lebih mahal, referensinya lebih kuat. Dan pola yang sama terjadi lagi. Semangat di awal, lalu mendatar.

Setelah tiga kali siklus ini, sebagian besar owner mulai berpikir masalahnya ada di kualitas orang yang mereka rekrut. Mereka mulai skeptis pada seluruh talent pool yang tersedia. “Susah cari orang bagus sekarang,” begitu biasanya kesimpulannya.

Tapi ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan di titik ini: kalau tiga orang yang berbeda — dengan latar belakang berbeda, gaya kerja berbeda, bahkan personality yang jauh berbeda — semuanya berakhir di hasil yang persis sama, apakah itu benar-benar soal orangnya?

Kenapa Pola yang Sama Muncul di Bawah Orang yang Berbeda-Beda

Ini bukan logika yang saya buat sendiri. Ada kerangka berpikir dalam dunia operasional bisnis yang menyebutnya dengan cukup tegas: kalau masalah yang sama muncul berulang kali di bawah kepemimpinan orang yang berbeda-beda, itu adalah sinyal kuat bahwa akar masalahnya bukan di kompetensi individu, tapi di sistem yang melingkupi peran itu.

Coba bayangkan begini. Kalau Anda menaruh tiga sopir yang berbeda di mobil yang remnya blong, ketiganya akan mengalami kecelakaan — bukan karena ketiganya sopir yang buruk, tapi karena mobilnya yang bermasalah. Sales manager Anda ada di posisi yang sama. Kalau sistem di sekitar peran itu tidak jelas, siapa pun yang menempatinya akan menghasilkan hasil yang mirip, terlepas dari seberapa bagus kemampuan personalnya.

Ini bukan sekadar analogi. W. Edwards Deming — salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia manajemen kualitas, yang pemikirannya membentuk sistem produksi modern di Jepang dan Amerika — pernah menyampaikan satu kalimat yang jadi rujukan klasik soal ini: “A bad system will beat a good person every time” (sistem yang buruk akan selalu mengalahkan orang baik, setiap saat). Kalimat ini didokumentasikan dari catatan seminar empat hari Deming di Phoenix, Arizona, pada Februari 1993.

Salah satu business owner yang saya dampingi pernah bilang ke saya, setelah pergantian sales manager yang ketiga: “Hendra, saya mulai curiga masalahnya bukan di orang-orang ini. Tapi saya nggak tahu persis apa yang salah.”

Itu justru titik yang bagus untuk mulai bertanya dengan cara yang berbeda.

Bagaimana Kalau Sebenarnya Ketiga Orang Itu Memang Berbeda Kualitasnya?

Ini pertanyaan yang wajar muncul — mungkin saja ketiga sales manager yang direkrut memang punya kualitas yang berbeda-beda, dan kebetulan ketiganya kurang cocok. Tapi ada cara sederhana untuk mengecek apakah keputusan ganti tim sales kemarin benar-benar soal kualitas individu atau soal sistem: lihat di area mana masing-masing gagal.

Kalau sales manager pertama gagal karena tidak bisa memotivasi tim, sales manager kedua gagal karena laporan yang berantakan, dan sales manager ketiga gagal karena tidak bisa closing deal besar — itu tiga kegagalan yang berbeda karakter, dan mungkin memang soal kecocokan individu masing-masing. Tapi kalau ketiganya gagal persis di titik yang sama — misalnya semua kesulitan mempertahankan momentum tim setelah bulan ketiga, atau semua kesulitan menutup leads yang sudah panas — itu pola yang jauh lebih sulit dijelaskan hanya dengan “kebetulan ketiganya kurang bagus.”

Apa yang Tidak Berubah Meski Anda Ganti Tim Sales Berkali-kali?

Pemilik bisnis merenungkan kenapa ganti tim sales hasil tetap sama setelah tiga kali pergantian

Ketika saya melihat lebih dekat ke bisnis-bisnis yang mengalami siklus ganti tim sales tapi hasil tetap sama ini, ada tiga hal yang hampir selalu ikut bertahan, tidak peduli siapa yang duduk di kursi sales manager.

1. Tidak ada ukuran keberhasilan yang jelas sejak awal

Sales manager baru datang dengan pemahamannya sendiri tentang “sukses” — mungkin soal jumlah kunjungan, mungkin soal revenue, mungkin soal margin. Tapi kalau owner sendiri tidak pernah mendefinisikan dengan presisi apa yang dianggap berhasil dalam 30, 60, 90 hari pertama, setiap orang baru akan menciptakan definisinya sendiri — dan biasanya definisi itu berubah lagi begitu Anda ganti tim sales berikutnya.

2. Cara kerja yang efektif tidak pernah didokumentasikan

Kalau ada satu orang yang pernah berhasil membawa angka naik di masa lalu, biasanya caranya hanya ada di kepala orang itu. Begitu dia pergi — resign, dipromosikan, atau diganti karena dianggap “kurang cocok” — cara kerja itu ikut pergi bersamanya. Orang baru harus menemukan ulang caranya dari nol, seringkali dengan trial-and-error yang sama persis dengan pendahulunya.

3. Belum ada kejernihan arah dari pemilik bisnisnya

Ini yang paling jarang disadari owner sendiri. Sales manager, sehebat apa pun dia, bekerja dalam batas kejelasan yang diberikan owner kepadanya. Kalau owner sendiri belum benar-benar jernih soal prioritas mana yang harus dikejar duluan, target mana yang benar-benar penting versus yang sekadar terdengar penting, sales manager manapun akan kesulitan mengeksekusi dengan tajam — bukan karena dia tidak kompeten, tapi karena dia sedang menerka-nerka arah yang seharusnya datang dari atas.

Kenapa Pola Ini Sering Terlewat

Yang membuat pola ini sulit dilihat adalah karena setiap kali Anda ganti tim sales, situasinya terasa seperti masalah baru. Orang baru, alasan resign yang berbeda, situasi pasar yang sedikit berbeda. Tapi kalau Anda menariknya mundur dan melihat tiga siklus terakhir sebagai satu rangkaian, bukan tiga kejadian terpisah, pola yang sama biasanya muncul dengan jelas.

Ini juga bukan salah owner untuk tidak melihatnya lebih awal. Ketika Anda berada di tengah operasional harian — mengejar target bulan ini, menyelesaikan masalah pelanggan hari ini — sangat sulit untuk mengambil jarak dan melihat pola tiga bulan, apalagi tiga tahun ke belakang.

Tapi begitu polanya terlihat, pertanyaannya berubah. Bukan lagi “kenapa orang-orang ini tidak becus,” tapi “apa yang belum saya bangun di sekitar peran ini, yang membuat siapa pun yang mengisinya berakhir di titik yang sama?”

Bagaimana Cara Membedakan Masalah Sistem dari Masalah Orang?

Tidak semua masalah eksekusi adalah masalah sistem — kadang memang ada orang yang tidak cocok dengan perannya. Sebelum Anda ganti tim sales untuk kesekian kalinya, bedanya bisa dilihat dari tiga pertanyaan sederhana.

Pertama, apakah masalahnya konsisten lintas orang, atau spesifik ke satu orang? Kalau hanya satu dari tiga sales manager terakhir yang gagal, dan dua lainnya berhasil dengan sistem yang sama, itu memang lebih mengarah ke masalah orang. Tapi kalau ketiganya gagal dengan cara yang serupa, itu sinyal kuat masalah sistem.

Kedua, apakah kegagalannya terjadi di area yang sama setiap kali? Kalau setiap sales manager gagal di area yang berbeda-beda (satu gagal di closing, satu gagal di manajemen tim, satu gagal di reporting), itu mungkin memang tiga masalah kompetensi yang berbeda. Tapi kalau ketiganya gagal persis di area yang sama, itu menunjuk ke satu titik lemah sistemik yang sama.

Ketiga, apakah orang-orang berkompeten di tempat lain gagal juga di sini? Kalau orang dengan rekam jejak bagus di perusahaan sebelumnya tetap gagal begitu masuk ke bisnis Anda, itu tanda kuat bahwa lingkungan dan sistem di sekitar peran itulah yang membuat mereka sulit berhasil — bukan kompetensi mereka yang tiba-tiba hilang.

Kenapa Owner Sering Terlambat Menyadari Pola Ini

Ada alasan yang cukup manusiawi kenapa pola ini sering butuh dua sampai tiga siklus sebelum disadari: menyalahkan orang terasa lebih mudah dan lebih cepat diselesaikan secara emosional dibanding mengakui bahwa sistem yang dibangun sendiri (atau belum dibangun sama sekali) adalah akar masalahnya. Merekrut orang baru terasa seperti tindakan konkret — ada proses interview, ada keputusan, ada rasa “saya sudah melakukan sesuatu.” Sementara membenahi sistem terasa abstrak dan lebih lambat hasilnya.

Dari pengalaman mendampingi klien, titik balik biasanya terjadi bukan saat owner merasa lelah merekrut, tapi saat mereka mulai menghitung biaya riil dari setiap siklus — biaya rekrutmen, biaya onboarding tiga bulan pertama yang belum produktif, biaya kehilangan momentum tim setiap kali ada pergantian. Begitu angka-angka ini dijumlahkan, biaya membenahi sistem sekali biasanya jauh lebih murah dibanding terus ganti tim sales setiap enam bulan.

Referensi

  • W. Edwards Deming — “A bad system will beat a good person every time,” dari catatan seminar empat hari di Phoenix, Arizona, Februari 1993 (didokumentasikan oleh peserta seminar Mike Stoecklein). Sumber: The W. Edwards Deming Institute

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah ganti tim sales memang tidak pernah menyelesaikan masalah?

Bukan begitu — kadang orang baru memang membawa perbaikan nyata. Tapi kalau tiga pergantian berturut-turut berakhir di hasil yang sama, itu sinyal kuat bahwa masalahnya ada di sistem sekitar peran itu, bukan di orangnya.

Bagaimana cara tahu apakah masalahnya sistem atau orang?

Tarik mundur tiga pergantian terakhir di posisi yang sama. Kalau hasil akhirnya mirip terlepas dari siapa yang mengisi, dan kegagalannya terjadi di area yang sama setiap kali, itu tanda sistemnya yang perlu dibenahi lebih dulu.

Apa langkah pertama kalau ternyata masalahnya di sistem, bukan orang?

Mulai dari mendefinisikan ulang, dengan presisi, ukuran keberhasilan untuk peran itu — sebelum Anda ganti tim sales sekali lagi dan mencari orang berikutnya untuk mengisinya.

Bagaimana kalau orang yang direkrut punya rekam jejak bagus di perusahaan lain tapi tetap gagal di bisnis saya?

Ini justru salah satu sinyal terkuat bahwa masalahnya ada di sistem dan lingkungan sekitar peran itu, bukan di kompetensi orangnya — kompetensi yang terbukti berhasil di tempat lain jarang tiba-tiba hilang begitu saja.

Kenapa owner sering butuh dua-tiga kali pergantian sebelum menyadari pola ini?

Karena menyalahkan orang terasa lebih cepat diselesaikan secara emosional, sementara membenahi sistem terasa abstrak dan hasilnya lebih lambat terlihat — meski biayanya, kalau dihitung, biasanya jauh lebih murah dibanding terus mengulang siklus rekrutmen.

Leave a Comment